Togel Online
Agen Judi Bola Online Terbesar
Casino Online
agen togel terpercaya
 Agen Poker IDN Terpercaya
 Agen Poker Terpercaya
Game MM Bola Tangkas Indonesia
Agen Bola Terpercaya Agen Bola Terpercaya
Space Iklan
Space Iklan

Tampangnya memang kurang meyakinkan sebagai pesepakbola, namun Peter Crouch sebenarnya seorang striker yang bagus, plus humoris.

Crouch baru saja memutuskan untuk pensiun di usia 38 tahun. Ia mengumumkan keputusan gantung sepatu itu melalui akun Twitter miliknya, @petercrouch.

Sebagai seorang pesepakbola, fisik Crouch memang sangat menonjol. Tingginya mencapai 2,01 meter. Namun tubuhnya kurus. Ia pun mendapat dipanggil ‘Beanpole’ di Inggris, yang merupakan julukan bagi orang yang tinggi dan kurus di sana.

Fisiknya terlihat rapuh. Apalagi kompetisi Premier League terkenal sangat mengandalkan fisik. Namun hebatnya Crouch mampu bertahan hingga 21 tahun di kompetisi tersebut.

Crouch memulai karirnya di pentas Premier League sejak tahun 1998 silam. Tottenham menjadi klub profesional pertamanya.

Setelah itu ia bermain bagi enam tim yang berbeda di sepanjang karirnya di EPL, termasuk Liverpool dan Stoke City. Ia terakhir kali membela klub Burnley.

Di sepanjang karirnya, ia mencetak 106 gol di Premier League. 53 di antaranya ia cetak melalui kepalanya. Catatan ini membuatnya menjadi raja serangan udara di Premier League.

Akrobatik

Namun, Crouch juga sering mencetak gol indah dengan kakinya. Ia bahkan sanggup melakukannya secara akrobatik.

Tengok saja golnya bersama Liverpool di Liga Champions pada September 2006 silam. Ia menjebol gawang Galatasaray dengan tendangan gunting.

Crouch menyebut bahwa gol ini bisa disebut sebagai gol terbaik di sepanjang karirnya. Pengakuan itu terlontar dalam sesi tanya jawab dengan fans via Facebook.

“Tendangan gunting untuk Liverpool dalam pertandingan melawan Galatasaray [pada 2006] ditambah tendangan overhead untuk Portsmouth melawan Stoke [pada 2008] juga sangat bagus, tapi saya pikir untuk sesaat ketika semuanya datang bersama, gol Man City adalah yang terbaik,” seru pria yang sudah menulis dua buah buku ini.

Humoris

Crouch juga pernah terpilih untuk membela Timnas Inggris. Ia mencatatkan 42 caps dan mencetak 22 gol. Satu di antaranya ia cetak saat melawan Trinidad dan Tobago di laga grup B Piala Dunia 2006 silam.

Saat itu laga berlangsung imbang hingga menit ke-82. Pada menit ke-83, Crouch akhirnya sukses memecah kebuntuan The Three Lions. Ia menyundul bola hasil umpan silang David Beckham. Namun dalam prosesnya, ia tertangkap kamera ‘menjambak’ rambut gimbal bek lawan, Brent Sancho.

Beanpole kemudian ditanya mengapa ia menjambak sang lawan dalam sebuah sesi tanya jawab dangan fans yang dihelat FourFourTwo. Jawabannya pun khas Crouch: Menggelitik.

“Itu seperti gerakan alami. Saya bahkan tidak tahu saya melakukannya sampai saya melihat semua foto sesudahnya. Ketika Anda berduel untuk bola udara, Anda hanya mencoba segalanya untuk mengalahkan pengawal Anda,” jawabnya.

“Sejujurnya saya tidak menyadari bahwa saya telah melakukannya, tetapi jelas itu buruk ketika Anda melihatnya kembali. Ia (Brent) tidak mengatakan apa pun setelah pertandingan, tetapi sejak saat itu Kenwyne Jones mengatakan kepada saya bahwa saya tidak terlalu disukai di Trinidad, jadi saya belum pernah berlibur ke sana!”

Suatu waktu, Dirk Kuyt, rekannya waktu di Liverpool, pernah bercerita bahwa Crouch nyaris menabraknya di arena gokart. Kuyt memang tidak mengada-ada. Crouch memang ‘sengaja’ hendak menabrak pria asal belanda tersebut.

“Itu terjadi sesaat sebelum final Liga Champions (2006-07). Kami semua berada di kamp pelatihan di Portugal dan pergi ke arena balapan gokart. Saya hendak menepi ke pit dan menyadari rem saya tidak berfungsi. Saya melihat Xabi Alonso dan Dirk Kuyt berdiri di sana, [dan] mengetahui bahwa saya akan menabrak salah satu dari mereka dan saya berpikir, ‘Siapa di antara keduanya yang paling berharga?'”

Tentu saja saat itu Alonso merupakan salah satu tulang punggung skuat Liverpool. Hampir tak ada pemain yang bisa menggantikan perannya di lini tengah. Jadi pada akhirnya Crouch memilih mengarahkan gokart-nya pada Kuyt.

“Saya memujinya, ia melompat keluar dari jalur. Saya [bergegas] kembali ke trek, panik dan melompat keluar. Kendaraan gokart saya menabrak dinding dan kemudian terbakar. Saya tidak tahu apakah itu merupakan faktor dalam pemilihan tim Rafa menjelang final…” kelakarnya.

Di final UCL 2006-07 itu, Crouch memang dicadangkan oleh Rafael Benitez. Ia menjadikan Kuyt sebagai penyerang tunggal. Beanpole sendiri baru dimasukkan pada menit ke-78. Saat itu Liverpool akhirnya kalah 2-1 dari AC Milan.

Selebrasi Robot

Crouch juga terkenal sebagai pemain yang mempopulerkan selebrasi robot. Selebrasinya itu ia lakukan bersama Timnas Inggris.

RoboCrouch melakukan selebrasi itu usai mencetak gol di laga uji coba kontra Hungaria pada tahun 2006. Kemudian ia melakukannya lagi saat melawan Jamaika, di mana ia mengemas hattrick dan membantu timnya menang 6-0.

Namun Crouch tidak melakukan selebrasi itu lagi. Ia mengaku hanya akan melakukannya jika Inggris memenangi Piala Dunia, yang tentunya tak pernah terjadi hingga ia pensiun saat ini. Namun di lain kesempatan, seperti yang dikutip oleh Observer, ada alasan lain mengapa ia tak melakukan Robot Dance itu.

“Itu lucu pada saat itu, tetapi saya tidak ingin terus melakukannya sampai menjadi tidak lucu. Saya sudah berhenti melakukannya untuk saat ini, tetapi jika saya pernah mencetak gol yang sangat besar Anda tidak pernah tahu [apa yang akan pernah terjadi].”